Poros Seni dan Budaya Bali

Tuesday, 19 June 2018

Ongkara, Pemujaan Kepada Tuhan Yang Tunggal.



Tuhan dalam wujudnya yang transenden, agama Hindu meyakini bahwa Tuhan itu tunggal adanya.  Dalam aksara modre, penyebutan Tuhan yang tunggal terlihat pada aksara suci Ong.
Nala (2006) menyatakan ada beberapa jenis Ongkara yang dikenal di Bali, antara lain :
Ongkara Gni, Ongkara Sabdha, Ongkara Mrta, Ongkara Ngadeg, Ongkara Sumungsang, Ongkara Adu Muka dan Ongkara Pasah.
              Alih aksara lontar tutur aji saraswati menyebukan tentang letaknya Ongkara Ngadeg dan Ongkara Sumungsang sebagai berikut.
Ung dadi ah mawak mreta, Ang dadi ongkara ngadeg mawak api, Mang mulih ring sunia mandadi windu. Ah mawak Ongkara Sumungsang magenah ring gidat, ardha candra ring alis windunia ring slaning. Nadanya ring tungtunging grana. Ongkara ngaded ne ring dada ardhacandrania ring gulu, windunia ring cedokaning gulu, nadania ring jiwa.

Terjemahan.

Adapun Ung menjadi Ah perwujudan amerta. Ang menjadi Ongkara Ngadeg perwujudan api. Mang masuk ke sunia menjadi windu. Ah perwujudan Ongkara Sumungsang terletak pada dahi, ardhacandranya pada alis, windunya pada sela-sela alis, nadanya pada ujung hidung. Ongkara ngadeg ada pada dada, ardhacandranya pada tulang belikat, windunya pada cekung pangkal leher, nadanya pada lidah.

Di dalam alih aksara dan alih bahasa Bhuwana kosa, disebutkan sebagai berikut :
Tri widham dewi, hreswa dirggha tatha. Ika tang pranawa bhatari, telu lwirnya, hreswa, dirggha, pluta nahan awaknya, bhur bhuwah swar itikyatah, ya sinangguh tri bhuana, nga, pranawa tri widham smretam ika tawak ikang pranawa telu, ya ta katuturana sang sadhaka (Bhuwana Kosa, IX.21)

Terjemahan

Pranawa itu, bhatari dapat dibedakan tiga beda wujud, yang masing-masing disebut, hreswa, dirgha, pluta. Ini pula yang disebut tiga dunia yang patut selalu diingat oleh para pendeta (Sura, 1994:113).

Eka windumahadewi, pranawam hreswam ewaca, ikang pranawa hreswa, yeka tunggal windunya, dwi winduh pranawam dirggham, ikang pranawa rwa windunya, yeka dirggha, nga, tri winduh pranawam plutam, ikang pranawa telu windunya, yeka pluta, nga (Bhuwana Kosa IX.22)

Terjemahan

Yang disebut pranawa hreswa, satu windunya, yang disebut dirgha, dua windunya yang disebut pranawa pluta, tiga windunya (Sura,1994: 114)
Sad winduh niskalam widhi, mangkana kitanaku sang kumara, an kawruhana ikang pranawa nem windunya, apan ya ikawaku niskala. Ekam brahmatu sanmukam, kunang ikang pranawa tunggal windunya, brahmawaknya, wisnuh dwih tri maheswara, ikang rwa windunya, wisnwawaknya, ikang pranawa telu windunya. Maheswarawaknya. Sad winduh niskalam jnye am, ya ta matangyan ikang pranawa nem windunya, ya ta kawruhanantanaku sang kumara, ya ta sinanggah niskalan yawak bhatara parama siwa iki (Bhuwana Kosa, IX.33).

Terjemahan

Demikianlah anakku Sang Kumara, hendaknya engkau ketahui pranawa yang berwindu enam adalah wujudku yang niskala. Pranawa yang berwujud satu adalah perwujudan Brahma. Yang berwindu dua adalah perwujudan Wisnu. Yang berwindu tiga adalah perwujudan Maheswara. Itulah sebabnya pranawa yang berwindu enam patut engkau ketahui anakku Sang Kumara. Itu adalah wujud dari Sang Hyang Parama Siwa yang niskala (Sura, 1994: 117).

Dari kutipan alih aksara dan alih bahasa Bhuwana Kosa di atas, ada empat wujud Ongkara Pranawa yaitu :
  1. Ongkara Pranawa Hreswa dengan sebuah windu, simbol Sang Hyang Brahma, sebagai Pradana.
  2. Ongkara Pranawa Dirgha dengan dua buah windu, simbol Sang Hyang Wisnu, sebagai Purusa.
  3. Ongkara Pranawa Pluta dengan tiga buah windu, simbol Sang Hyang Iswara, sebagai putera.
  4. Ongkara Pranawa Nem dengan enam buah windu, simbol Sang Hyang Paramasiwa.
Selain itu ada pula Ongkara yang terdapat di mata, yakni.
  1. Ongkara Sari di hitam bola mata.
  2. Ongkara Aksara di putih bola mata.
  3. Ongkara Modre di selaning mata.
  4. Ongkara Sumungsang di merah bola mata (Ra, 2008 : 115).
Sayang (2009) menyatakan walaupun bentuk dari aksara Ongkara beragam, keesaan dari Ida Sang Hyang Widhi dilambangkan dengan aksara Ongkara.  Bentuk lain dari Ongkara adalah sebagai perwujudan Tuhan yang Tunggal disesuaikan dengan kedudukannya.  Omkara atau pranawa adalah simbol universal diyakini oleh umat Hindu. Sri krsna menyatakan dengan tegas di dalam beberapa sloka bhagawadgita.
Rosa ‘ham apsu kaunteya
Prabhā ‘ śmi śasisūryayoh
Pranawah sarwawedesu
Sadah khe paurusam nrisu
(Bhagawad Gita.VII. 8)

Terjemahan

Aku adalah rasa dalam air, o Arjuna
Aku adalah cahaya pada bulan dan matahari
Aku adalah pranawa dalam semua weda
Aku adalah suara di ether dan kemanusiaan pada manusia
(Maswinara, 1997: 267)

Om ity ekaksarambrahma
wyharan mām anusmaran
yah prayāti tyajam deham
sa yāti paramām gatim
(Bhagawad Gita VIII. 13)

Terjemahan

Ia yang mengucapkan Om, aksara tunggal yaitu Brahman, dan mengingatkan Aku sewaktu ajal akan meninggalkan badan jasmani, ia akan pergi menuju tempat yang tertinggi ( Maswinara, 1997: 290).

Tentang kebesaran dan keagungan Aum di antara ucapan suci dinyatakan sebagai berikut.
Mahaŗsīnām bhrigur aham
Girām asmy ekam akşara,
Yajnanam japayajno ‘smi
Sthawaranam himalayah
(Bhagawad gita X.25).

Terjemahan.

Diantara Rsi agung aku adalah Bhrgu, diantara ucapan suci aku adalah aksara tunggal Aum, diantara persembahan aku adalah persembahan meditasi hening dan diantara benda-benda tidak bergerak aku adalah gunung Himalaya (Maswinara, 1997 : 338 )

Di dalam Manavadharmaśāstra menyatakan pentingnya pengucapan dan keutamaan Omkara antara lain sebagai berikut.
Brahmanah pranawa kurya dadawante sa carwada,
Srawatyani krtam purwan pura stacca wiciryati

Terjemahan

Hendaknya mengucapkan pranawa (aksara suci Om) pada awal dan penutup pelajaran Veda karena bila tidak didahului dengan Om, pelajaran akan tergelincir menyasar dan kalau tidak diikuti pada penutup, maka pelajaran itu akan menghilang (Pudja, 2003: 82 ).

Benih aksara ini menjadi saripati Brahman dan yang akan datang dan juga yang mutlak yang tiada berwujud.  Om yang terdiri dari tiga unsur A, U, M, berhubungan dengan tiga keadaan yaitu waktu terjaga, mimpi dan tidur tanpa mimpi.  Atma yang maha tinggi terwujud dalam alam ini pada bentuk kasar, yang halus dan yang mempunyai segi sebab musababnya.  Suku kata ini sesungguhnya mempunyai semangat yang tiada habisnya dan suku kata ini adalah tujuan yang maha tinggi, dengan mengerti suku kata ini, apapun yang diinginkan seseorang akan terwujud (Wirasuyasa, 2009: 85).
Pada waktu mengucapkan mantra-mantra agar selalu memulai dengan mengucapkan pranawa OM.  Hal ini perlu untuk mengendalikan agar mantra-mantra yang diucapkan itu benar-benar terarah dengan semestinya, dan kemudian diakhiri pula dengan mengucapkan pranawa OM, agar apa yang telah diucapkan itu tidak mudah hilang dari ingatan.  Dengan mengucapkan pranawa Om berarti memuliakan nama Sang Hyang Widhi agar memperoleh wara nugraha-Nya.  Demikian pula waktu menuliskan mantra-mantra, agar selalu dimulai dengan menuliskan kalimat “Om awighnamastu” dan diakhiri dengan menulis kalimat “Om Sidhirastu Tat Astu Om” (Suparta, 2009: 18-19).
Ongkara ini menurut penghargaannya menempati penghargaan tertinggi dari urutan dari rendah ke yang tertinggi : arcana, mudra, mantra, kuta mantra, pranawa.  Yaitu : upacara agama, sikap-sikap tangan, mantra-mantra, mantra utama, dan suku kata suci.  Suku kata suci OM juga disebut Ongkara, sebagai lebih tinggi dari mantra tertinggi dari upacara (Agastia, 2005 : 239).  Ongkara adalah wujud dari seluruhnya.  Akhirnya Ongkara itu lenyap di dalam Ardhacandra.  Ardhacandra lenyap di dalam windu.  Windu lenyap di dalam Nada.  Nada lenyap di dalam Niskala, demikianlah pranawa (Bijaksara Ongkara).  Uraian panjang tentang Pranawa Mantra di dalam Bhuana Kosa juga menjadi landasan Siwa Tattwa, ajaran filsafat Siwa, menyangkut ajaran tentang penciptaan jagat raya sampai pada ajaran tentang peleburannya (kelepasan).  Ongkara juga merupakan Ibu, karena ia yang melahirkan segala yang ada.  Oleh karena itu Ongkara juga dikaitkan dengan Sakti, sebagai kekuatan penciptaan (Agastia, 2005 : 239-240).  Pemahaman Ongkara maupun aksara yang lain termasuk rajah kajang yang ada dalam berbagai lontar seharusnya difahami dengan pengetahuan dasar tentang filsafat bumi sebagaimana tertuang di dalam ajaran Tantra (Siwa-Buddha-Tantra) (Agastia, 2005: 243).
Menurut Ra (2008, 160-161), OM merupakan Brahman yang sesungguhnya, yang transenden dan universal ; kesadaran yang merupakan tujuan manusia.  Mereka yang bermeditasi pada Tuhan yang meresapi segalanya itu, melalui pengulangan Pranawa Om, akan mencapai segala kebahagiaan, pengampunan, kekekalan, keberadaan tertinggi yang meresapi segalanya, yang tak termusnahkan.  Dengan melalui simbol yang suci ini saja, para bijaksana menempatkan dirinya seirama dengan Sang Diri Universal.  Dijelaskan pula bahwa tujuan suci yang diuraikan oleh semua weda adalah OM yaitu Brahman yang tak terhancurkan dan dengan mengetahuinya, maka apa yang diinginkan seseorang akan tercapai.  OM merupakan busur bagi para meditasi seperti perlakuan seorang pemanah yang mengarahkan anak panahnya (atman), yang dipertajam dengan rasa bhakti, menuju Brahman yang merupakan sasaran.  Hanya dengan konsentrasi yang tak tergoyahkan sajalah, maka anak-anak panah  (atman) itu mengenai sasaran dan manunggal dengan Brahman.  Meditasi melalui pengulangan kata-kata suci ini, melalui perenungan yang tidak putus-putusnya maka para calon spiritual akan dapat mencapai  kediaman awal dan tertinggi, dan setiap upacara kurban, selalu didengar.  OM merupakan suara awal, yang juga merupakan nama dari Brahman, atau Tuhan.  OM menyatakan Brahma sebagai pencipta, Wisnu sebagai pemelihara, dan Siwa sebagai pelebur.  Om merupakan keseluruhan alam semesta yang terbentuk oleh ketidakseimbangan dari triguna atau juga merupakan perwujudan tri tunggal dari sifat, yaitu : sattwa guna atau ketenangan, rajo guna atau kegiatan nafsu, dan tamo guna atau kelembaman.  Om juga menyatakan tentang badan phisik, badan astral dan badan penyebab, dan menyatakan atma yang melampaui ketiga badan tersebut.  A adalah bunyi kerongkongan, U bunyi pertengahan, dan M bunyi gerak bibir atau akhir dari suara hidup.  Jadi singkatnya, OM menyatakan tentang semua yang berwujud maupun yang tak berwujud, yang merupakan sumber dan asal mula dari segala sesuatunya (Ra, 2008: 163).
OM juga merupakan Nada Brahman atau Suara Brahman, yang merupakan bija atau benih mantra dan biasanya dipakai sebagai awalan bagi seluruh mantra lainnya.  Hati (jantung) merupakan tempat kedudukan atma, dan dari sana berkembang 108 buah nadi, sehingga menarik untuk dicatat bahwa jumlah minimum dari mantra yang diucapkan adalah 108 kali, oleh karena itu jumlah manik-manik pada untaian tasbih atau mala adalah 108 butir.  OM adalah suara yang mencerminkan alam semesta dan selama masa peleburan, segenap alam semesta ini bergabung dalam OM.  OM tidak memiliki awal dan tidak memiliki akhir, melampaui waktu, ruang dan penyebab, melampaui alam bawah, bumi dan alam atas.  OM melampaui sifat-sifat sattwa, rajas dan tamas. OM menggerakkan prana atau daya vital kosmis, dan dalam diri manusia dinyatakan dalam prana wayu atau nafas vital, itulah sebabnya Ia dikenal dengan pranawa.  OM juga melampaui keadaan jaga, tidur bermimpi, dan tidur lelap dari kesadaran.  Dalam setiap nafas, mengucapkannya, mengulang-ngulangnya tanpa sengaja dan tak terhindarkan.  Setiap getaran dalam badan  dan di alam semesta bermula dari OM, dihidupi oleh OM, dan kembali terserap ke dalam OM.  OM adalah satu-satunya yang dicari oleh semua orang suci, orang-orang bijaksana, para ilmuan dan tujuan dari semua roh.  OM adalah satu kebenaran yang dipuja dalam berbagai cara, memberikan keseimbangan, kebijaksanaan,  penopang,  meresapi segalanya, menghidupi, memberikan kedamaian, kebahagiaan dan kekuatan.  OM membinasakan ego, keinginan, dan keragu-raguan.  OM adalah akar penyebab, tempat kediaman atman, adalah bahasa Tuhan.  OM dinyatakan oleh Tuhan, menyatakan Tuhan, dan Tuhan itu sendiri.  Tuhan adalah kasih-sayang, oleh karena itu kasih-sayang menyatakan Tuhan.  Pengucapan OM pada mantra Gayatri, pada pagi hari maupun senja hari, akan memberikan pemujanya segala pahala dari mempelajari weda.  Seperti ular yang melepaskan kelongsongnya sendiri, sedemikian pulalah sang dwijati melepaskan segala dosa-dosanya dengan pengulangan secara teratur Gayatri Mantra dengan OM (Ra, 2008 : 164-166).

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Loloh Aman

PHOTO-2019-03-19-13-56-39 Numbas loloh durus ring Loloh AMAN, antuk Tlp/Wa 083114722726