Poros Seni dan Budaya Bali

Friday, 13 July 2018

RENUNGAN KALIYUGA Ketika Arta Menjadi Raja

Sumber Gambar : callingourmothersnames.wordpress.com
Hindu mengenal ada empat pembagian jaman, Krtayuga, Trtayuga, Dwapara Yuga dan Kaliyuga. Banyak kalangan menganggap, sekarang sudah masuk di jaman kaliyuga itu, walau sesungguhnya tiada yang mampu memastikan batasan dari datangnya masing-masing jaman. Apakah sekarang sudah memasuki jaman kaliyuga atau tidak, bukanlah menjadi persoalan, tetapi jauh lebih penting untuk semakin menyadari akan hakekat Dharma itu sendiri. Ada beberapa penggalan teks yang menceritakan akan datanganya jaman kegelapan itu. Seperti halnya kutipan kitab Nitisastra berikut.
Singgih yan těkaning yuganta kali tan hana lewih sakeng mahadhana,
Tan waktan guṇa Çura paṇdhita wigadha padha mangayaping dhaněÇwara,
Sakweh ning rinahasya sang wiku hilang kularatu padha hina kasyasih,
Putra dwepi taninda ring bapa si Çudra banija wirya pandhita.
Kebenaran pada saat datangnya kaliyuga  tidak ada yang bisa melebihi orang yang kaya harta benda, tidak lagi membicaraka orang yang memiliki banyak kemampuan,Seorang pandhita, seorang yang pintar, semua tunduk kepada yang kaya harta, semua yang disakralkan sang wiku tidak dihiraukan, ratu semua dinistakan, anak membunuh orang tua.

Pangdening kalimurkaning jana wimoha matukar arebut kawiryawan,
Tan wring ratnya makol lawan bhrata rawandhawa ripu kinayuh paka Çrayan,
Dewa drwya winaÇa dharma rinurah kabuyutan inilan padha sěpi,
Wyartang Çapatha suoraÇasti linebur těkaping adharma murkka ring jagat.
Zaman Kaliyuga menjadikan pikiran bingung, Senang berebut kekuasaan, tidak tahu dirinya melawan sanak saudara dan keluarga, Semua yang milik Pura dirusak, padharman-padharman dihilangkan, semua menjadi sepi, kutukan tidak berguna,Prasasti yang utama dilebur oleh si bodoh yang rakus di bumi.
Begitu juga halnya dengan ciri yang termuat dalam Roga Sangara Bumi
ritatkalaning bhūmi nuju kaliyuga, ratu ameseh lawan pada ratu, rug kang ikang bhūmi, tan ana tunggal rumaksa bhūmi, obah ikang rāt, tan pegat kageringan, rabah ikang wwang kataman gering, larania panas, mati makweh.

Kutipan di atas bisa menjadi renungan serta mengingatkan umat untuk mulat sarira. Semua kuripan sastra tersebut, kiranya sudah terjadi dan sangat dekat dengan kehidupan kita.  Fenomena yang banyak terjadi sekarang, sering muncul sangkalan-sangkalan yang seolah-olah menyalahkan jaman, banyak yang tidak menyadari akan kesalahan yang telah diperbuat, semua merasa benar adanya. Contoh sederhana, ketika melihat anak durhaka pada orang tuanya, tiada rasa malu ataupun penyesalan yang dimiliki sang anak. Orang lain yang melihatnya hanya mengatakan “jaman kaliyuga nak mule keto”. Segala dosa perbuatan yang ada seperti tidak bisa dihindari dan memang harus terjadi di jaman yang dibilang sudah memasuki jaman kaliyuga. 
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Loloh Aman

PHOTO-2019-03-19-13-56-39 Numbas loloh durus ring Loloh AMAN, antuk Tlp/Wa 083114722726