Poros Seni dan Budaya Bali

Friday, 13 July 2018

“TUMPEK KRULUT” HARI KASIH SAYANG



Tidaklah salah jika tumpek krulut diartikan sebagai hari kasih sayang bagi masyarakat hindu Bali. Krulut secara etimologis kata berasal dari kata lulut (jawa kuna) memiliki arti kasih, sayang, cinta, asmara, rindu, hasrat cinta kasih, rasa cinta. Tumpek itu sendiri (jawa kuna) memiliki arti terbalik.  Maksud terbalik disini, tumpek yang jatuhnya hari sabtu /saniscara adalah sebagai akhir dari siklus hari dalam perhitungan hari di Bali. Berkaitan dengan makna hari raya tumpek landep, ada kutipan dalam lontar sundarigama sebagai berikut :
Saniscara kliwon ngaraning tumpek, ye wekasing tuduh, ikang sarwa janma, aywa lali sira ngastiti Sang Hyang Parama Wisesa, apan sira tan hana doh tan hana parek lawan sire, tan parok tan pasah, apan sira amet panet, kala sane katemurun kerte nugraha, nira Sang Hyang ring madiapadaloka, pangacinia kayeng prelagi, risedenging ratri tan wenang anambut gawe, balik menapuhe sira acita nirmala, umengete ring sesanan nira Sang Hyang Darma, muang kawiadnyana sastra kabeh, telas samangkana, aywa sira tan mangguhaken rahayu, saparaning lakunte, apa nian mangkana wang tan pakerti tan payase, tan pakrama ngarania, sama lawan sato, binania amangan sege, yan sang wiku tan manut dudu sire wiku, ranakira Sang Hyang Darma.
Terjemahan bebasnya, Saniscara Kliwon namanya sebagai puncak rahmat yang diberikan kepada manusia, karenanya janganlah lupa memuja Sang Hyang Parama Wisesa, janganlah menjauhkan diri sebab sebagai hari turunnya kemakmuran. Pada saat malam tidak diperkenankan mengambil  pekerjaan, namun diamlah dengan hening sesuci-sucinya dan memusatkan perhatian kepada Sang Hyang Dharma, serta kesadaran jiwa menyeluruh. Yakini dan jangan menentang akan kebenaran ini karena dapat memberikan keselamatan. Orang yang demikian, tidak melakukan kebenaran, tak ubahnya binatang, jikalau orang-orang suci tidak menuruti keyakinan itu, maka bukanlah wiku sebagai titisan Sang Hyang Dharma.
Dalam kutipan tersebut, sangat jelas kita diajarkan agar selalu eling, sesibuk-sibuknya dalam berswadharma harus ingat akan kewajiban memuja penguasa dunia Sang Hyang Parama Wisesa. Adalah lewat jalan Dharma tiada lain sarananya. Sebagai siklus waktu akhir, tumpek merupakan hari baik sebagai hari turunnya keberkahan. Pada saat tersebut hendaknya memusatkan pikiran.
Tumpek krulut oleh masyarakat Bali lebih dikenal sebagai upacara untuk gamelan atau otonan gong, pemujaan kepada Hyang Iswara. Hal ini yang kemudian dikaitkan dengan bagaimana membangun cinta kasih lewat lantunan nada. Suara gamelan yang indah muncul dari kolaborasi indah dari beragam instrumen. Kolaborasi indah dari semua instrumen gong, mengajarkan  kepada kita agar saling mendukung, saling mengasihi saling memberi satu sama lain sehingga menghasilkan sesuatu yang indah. Jika dikaitkan dengan lontar aji gurnita, setiap nada tetabuhan memiliki dewa tersendiri yang disthanakan seperti dalam penggalan baris lontar aji gurnita berikut :
Pelok panca swara, Dang, A, Iswara, Deng , E, Brahma, Dong, O, Mahadewa, Dung, U, wisnu, Ding, I, Siwa.
Nada Pelog lima suaranya, Dang aksaranya A dengan dewanya Iswara, Deng aksaranya E dewanya Brahma, Dong aksaranya O dewanya Mahadewa, Dung aksaranya U, dewanya Wisnu, Ding aksaranya I dewanya Siwa.
            Pada hakekatnya, pada tumpek krulut kita diingatkan untuk saling peduli satu sama lain, diawali dari yang terdekat sehingga memunculkan keharmonisan dan ketentraman hidup layaknya suara indah yang dihasilkan oleh tetabuhan gong. Jikapun dalam kehidupan ada ketidakcocokan dengan orang terdekat, seperti sesenggakan Bali mengatakan “ tan bika sekadi melayangane, nyen keajak makorod, sinah ane paek, ie ane ker sai tepuk, tusing anak ane joh kar ajak makorod.

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Loloh Aman

PHOTO-2019-03-19-13-56-39 Numbas loloh durus ring Loloh AMAN, antuk Tlp/Wa 083114722726